Sejenis Cerpen : Rein

 



Sudah 30 menit Rein berdiri di bibir pantai.


Hangat air laut menerpa kaki Rein berulang kali. Lelaki itu tetap mematung tak peduli. Ia hanya memandang lurus ke laut yang tak berujung. Angin sepoi2 membelai lembut tubuh tegapnya seolah ingin menenangkan lara yang sekian lama bersemayam.

Tidak banyak yang berubah dari pantai ini semenjak terakhir kali Rein bertandang 8 tahun lalu. Pasirnya yang lembut masih putih mengkilap layaknya mutiara. Aroma khas udaranya seperti bersenyawa dengan kesunyian. Dan desiran sang bayu terdengar syahdu seolah membawa simfoni rindu yang tak berkesudahan.

Sketsa masa lalu berkelebatan dalam alam lamunan Rein. Saat dulu ia berlarian bahagia menyusuri pesisir pantai. Saat ia menyantap jagung bakar sembari menikmati mentari beringsut pamit di ufuk barat. Atau saat ia dan sang cinta pertama memanjat ke atas bukit kecil untuk melihat gradasi warna laut yang sangat mempesona. Semua kenangan itu menjadi ironi yang sungguh2 ingin Rein selesaikan senja ini.

💮

Hampir satu windu berlalu, Rein masih mengingat jelas mozaik2 pilu yang terpatri di pantai ini. Kala itu, senja yang biasanya damai mendadak murung. Burung camar berterbangan tak beraturan seperti turut merasakan gelisah.

Dipertemuan terakhirnya itu, gadis tercinta milik Rein tidak membawa bahagia sebagaimana biasa melainkan nestapa yg tak pernah Rein berani bayangkan.

"Maafkan aku Rein, semoga engkaupun mendapatkan yang terbaik dalam hidupmu." sebuah surat undangan berwarna jingga menjadi saksi kehancuran hati Rein hari itu.

Pedih..
Perih..
Rein mendadak limbung, seperti ada gada raksasa yang menghantam tepat di kepalanya.

"Aku tidak punya pilihan lain Rein, tolong mengertilah. Dan berjanjilah kamu akan baik2 saja."

Serbuan tanya siap meluncur dari mulut Rein. Namun demi melihat raut wajah wanita dihadapannya tak kalah menyedihkan dari dirinya, Rein memilih untuk diam. Tak ada yang ia katakan, tak ada yang ia tanyakan.

Rein seperti seorang pengecut yang terlalu mudah menyerah. Mimpi yg dibangun sekian lama ia relakan begitu saja. Namun sebenarnya ia hanya tidak ingin menambah beban bagi sang cinta pertama. Wanita yang sudah ratusan kali menemaninya membangun istana pasir di pantai ini. Maka ia hanya tersenyum getir, seolah olah mengatakan "tenanglah cinta, aku baik2 saja. hidupku akan seperti batu karang yang ada di pantai ini. tetap berdiri tegak seperti biasa".

Semenjak saat itu, episode hidup Rein tidak pernah lagi sama. Namun selama 8 tahun ia benar2 menjelma seperti batu karang yang sedang ia pandangi. Hati dan kenangannya masih terpaku di pantai ini. tidak pernah kemana2, tidak pernah satu sentipun beranjak.

💮💮

Hampir 1 jam Rein bernostalgia dalam duka. Matahari sudah enggan menemani, cahaya lembut yang menyiram pantai perlahan meredup sebagai tanda ia harus pulang. Tak lama lagi #terangbulan menapaki bumi. Rein melangkah mundur menjauh. Tak banyak pintanya. hanya sebuah harapan sederhana terselip dalam doa.

"Tuhan...kali ini aku benar2 telah menerima jalan takdirmu. Tolong izinkan aku untuk melarungkan kepedihan hati di laut ini. Pilu yang tak terobati sejak sewindu lalu".

💔💔
(Mungkin) Bersambung...

#cumafiksi
#cerpendya

Share:

0 komentar